Begalan siapa yang pernah dengar kata-kata itu,
pasti orang asli Banyumas tidak asing dengan kata-kata itu. Begalan adalah
jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan
adat Banyumas yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki
pelataran rumah pengantin wanita. Begalan berasal dari kata begal dan akhiran an, artinya perampasan atau perampokan di tengah
jalan. Namun jangan diartikan perampokan dalam artian sebenarnya, begalan ini
hanya merampas waktu kedua calon pengantin untuk memberikannya
pelajaran/nasehat untuk bekal mereka dalam mengarungi hidup berumah tangga
melalui pesan-pesan yang tersirat dalam ritual begalan ini. Dalam pementasan
begalan,yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan si
pembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan
disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Upacara ini diadakan apabila
mempelai laki-laki merupakan putra sulung. Begalan merupakan kombinasi antara
seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai
layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu
yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Jumlah penari dua
orang, seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur) yang
bernama Gunareka , dan seorang lagi bertindak sebagai
pembegal/perampok yang bernama Rekaguna . Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, cething,
kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan
wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Pembegal biasanya
membawa pedang kayu yang bernama wlira.
Sejarah seni begalan yang berakar dari budaya Banyumasan telah
mengalami pasang surut, bahkan generasi muda sekarang sudah banyak yang tidak mengerti
atau buta sama sekali dengan kesenian begalan.Ada beberapa versi seni
begalan namun yang banyak ditulis dalam sejarah dan riwayat Banyumas menyatakan
bahwa seni begalan ada sejak jaman Adipati Wirasaba yang ketika itu mengawinkan
anak (putri) yang bernama Dewi Sukesi dengan putra sulung dari dari adipati
Banyumas yang bernama Pangeran Tirtakencana, ada yang menyebut terjadi pada
abad ke 19.
Sebagian dari masyarakat Banyumas juga
ada yang berpendirian, tidak setiap mengawinkan anaknya harus menggelar seni
begalan. Ada keyakinan begalan juga mirip ruwatan. Seni begalan bukan hanya semata-mata merupakan suatu hiburan atau pertunjukan belaka sebab dalam aksi
dan dialognya berisi ajaran atau tuntunan dan ular-ular yang ditujukan kepada
mempelai berdua. Sarana begalan seperti ilir, ukusan, kendil, padi, serta
berbagai peralatan dapur lainnya mengandung banyak makna tertentu. Biasanya para pelaku
begalan menjelaskan makna peralatan begalan satu-persatu, yang semuanya
mengandung permohonan/doa kepada sang maha kuasa agar mempelai berdua dapat
mengarungi bahtera rumah tangga dengan sakinah warohmah dan mawahdah yang dalam
bahasa begalan disebut keluarga langgeng “Kaya Mimi lan Mintuna, nganti
Kaken-kaken Ninen-ninen”. Pada mulanya pelaku seni begalan
tidak dibayar, bahkan lebih cenderung menolong, semata-mata merupakan tradisi
ruwatan agar upacara pernikahan dapat berjalan lancar. Keturunan warga Banyumas
yang ada diluar daerah bahkan harus bersusah payah mencari group begalan
yang berkualitas.. Dari kebiasaan ditanggap inilah yang kemudian seni
begalan masuk ke ranah entertainment dan memasang tarif yang cukup besar dalam
setiap pementasan.
Maka kesenian begalan adalah suatu
atraksi yang menggambarkan seseorang yang sedang membawa barang bawaan
kebutuhan hidup, dan kemudian dirampok di tengah jalan. Dengan diiringi genhing-gendhing
khas Banyumasan mereka melakukan dialek serta pesan moral yang diselingi
banyolan, sindiran, sekaligus petuah kepada para penontonnya. Gendhing yang
dipilih biasanya bernada dinamis dan suasana riang untuk menghidupkan suasana. Ketika suara genghing berhenti, mulailah para pembegal memperkenalkan diri
dan terjadi dialog. Seperti layaknya tukang begal, maka ada adegan pertengkaran
dan adu mulut, sambil menjelaskan arti dan makna barang bawaan yang semuanya
dikemas dalam “brenong kepang”(semacam pikulan). Masyarakat yang mernonton
biasanya mengharapkan momentum berebut benda yang ada di brenong kepang. Mereka
percaya jika dapat merebut/mendapatkan benda-benda-begalan akan mendapat berkah.Dalam perkembangannya seni begalan dianggap bertentangan dengan agama
(Islam), karena jika tujuannya hanya untuk mengusir roh jahat maka lebih afdol
jika cukup dengan membaca doa bersama agar mempelai berdua dapat selamat dan
bahagia. Perkembangan lebih lanjut, begalan semakin surut peminatnya seiring dengan
perubahan jaman. Untuk melestarikan seni tradisional ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
belum lama ini telah menyelenggarakan seminar tentang begalan. Dinbudpar juga
terus menggali, melestarikan, mengembangkan dan memberdayakan potensi
pariwisata dan kebudayaan dalam rangka mewujudkan Banyumas sebagai kawasan
cagar budaya, agar generasi muda dapat lebih tertarik memahami seni begalan,
tidak hanya sebatas “sarana” dalam upacara pernikahan.tapi juga sebagai asset kebudayaan khas Bamyumas. sekian share dari saya semoga bermanfaat.
Tag :
DAERAH



0 Komentar untuk "BEGALAN, Tontonan Sekaligus Tuntunan dan Ritual"